Drop Down MenusCSS Drop Down MenuPure CSS Dropdown Menu
Selamat datang di Blog kami...

HAVE FUN...

Vlog kami : https://www.youtube.com/watch?v=avkO4cZuk2I&feature=youtu.be







Film My Stupid Boss deretkan karakter-karakter absurd untuk hidupkan suka duka dunia kerja.
Image result for my stupid boss
Awalnya adalah seri buku kumpulan cerita karya penulis anonim Indonesia, Chaos@work, tentang berbagai pengalamannya bekerja untuk seorang bos berkelakuan ajaib—yang identitasnya juga tidak diungkap. Dari judulnya saja yang menyiratkan emosi, mungkin bisa dibayangkan bagaimana ajaibnya bos tersebut di mata sang penulis, sampai-sampai cukup untuk ditulis dan dikumpulkan jadi beberapa jilid buku.
Berangkat dari gagasan tersebut, dibuatlah versi film layar lebar My Stupid Boss, diproduksi Falcon Pictures bersama sutradara Upi yang juga menulis skenarionya. Sekalipun bukunya sendiri diaku sebagai kumpulan pengalaman nyata, film My Stupid Boss mengangkatnya dalam sebuah komedi dengan visualisasi yang absurd dan komikal. Ini sangat jelas ditunjukkan dengan taburan warna-warna menyala namun tertata dari desain produksi dan sinematografinya, hingga penataan adegan dan bangunan karakter yang absurd.
Setiap tokoh yang ditampilkan pun dirancang dengan tampilan dan karakteristik yang khas, khususnya dari dua tokoh utamanya, Bossman (Reza Rahadian) dan kepala administrasi alias kepala kerani di kantornya, Diana (Bunga Citra Lestari), didukung oleh tata rias dan kostum yang hampir mustahil diaplikasikan di dunia nyata. Dengan perlakuan demikian, My Stupid Boss bisa dengan leluasa menuturkan ceritanya yang memang terdiri dari rangkaian adegan-adegan komedi absurd, dengan maksud mengajak penontonnya bersenang-senang.
Film ini mengikuti kisah Diana, yang tinggal di Kuala Lumpur, Malaysia bersama suaminya, Dika (Alex Abbad) yang sedang bekerja di sana. Untuk mengisi waktunya, Diana memutuskan untuk bekerja di sebuah kantor perusahaan bidang manufaktur. Kebetulan perusahaan itu dipimpin sesama orang Indonesia dan merupakan teman dekat Dika saat kuliah di Amerika Serikat.
Akan tetapi, Diana seakan belum siap bahwa sang pemimpin perusahaan yang hanya mau dipanggil Bossman itu ternyata menguji kesabarannya dengan berbagai kelakuan nyeleneh dan mengesalkan. Mulai dari pelit, pelupa, ngotot, sembarang bicara, suka pamer, tak mau disalahkan, sampai menyelewengkan aturan negara. Seringkali Diana terjebak dalam konsekuensi kelakuan bosnya itu, karena jabatannya memang langsung di bawah si bos, dan sedikit banyak jadi andalan satu-satunya bagi sang bos.
Tuturan cerita My Stupid Boss kemudian digerakkan lewat berbagai kejadian unik dan memancing tawa seputar hubungan Bossman dengan para pegawainya—kecuali Diana, semuanya merupakan orang Malaysia dan kerap timbul kesalahpahaman karena perbedaan bahasa dan budaya.
Bagusnya, sekalipun ditampilkan dengan gaya komikal dan dilebih-lebihkan di beberapa titik—bahkan sampai tampilkan adegan musikal, film ini bisa menampilkan konflik-konflik yang masih believable dan bisa dihubungkan dengan kejadian sehari-hari, karena hanya reaksi tokohnya yang berlebihan, bukan konfliknya.
Namun, bila diperhatikan, film ini seperti hanya berisi rangkaian fragmen tanpa ada sebuah garis cerita yang jadi perekatnya. Hal ini membuat film ini sempat tak terbaca arahnya ke mana, karena baik waktu, tempat, maupun event yang diangkat terbilang acak, tanpa pengikat untuk menjadi jalinan cerita yang utuh. Paling kentara adalah sebuah belokan dari karakter Bossman di bagian akhir film yang terasa tiba-tiba, karena belum sempat dibangun dalam adegan-adegan sebelumnya, seakan fragmen ini dipaksakan ada supaya filmnya bisa segera dituntaskan.
Meski demikian, terlihat sebuah usaha dari pembuat film untuk mengelompokkan fragmen-fragmen itu menjadi beberapa babak. Diawali dari perkenalan dan ketidakberdayaan Diana menghadapi Bossman, lalu upaya Diana 'bangkit' dan melawan Bossman, sampai ditutup dengan rekonsiliasi mereka berdua. Disampaikan dengan dinamika emosi yang baik dari adegan dan performa para pemain, pembabakan itu cukup mampu membuat film ini menarik diikuti, minimal tidak sampai menjenuhkan.
Terlepas dari itu, My Stupid Boss terlihat sadar akan amunisi utama yang menghidupkan film ini, yaitu para pemainnya. Baik itu dari Reza Rahadian, Bunga Citra Lestari yang bermain lepas sebagai Diana yang outspoken, maupun para aktor-aktris asal Malaysia sebagai pegawai Bossman di kantornya—antara lain Bront Palarae, Chew Kinwah, Atikah Suhaime, dan Iskandar Zulkarnain—yang mampu bermain kompak dan menonjol dengan karakterisasi komikal yang diberikan. Ketika dikira dandanan dan performa eksentrik Reza akan mendominasi, pemain lainnya terbukti berhasil mengimbanginya.
Pada akhirnya, dalam kapasitasnya sebagai sebuah film hiburan, My Stupid Boss mampu menunaikannya. Kalaupun masih terganjal pada lemahnya cerita atau lawakannya yang mungkin tak selalu bisa kena ke semua selera, film ini masih mampu menarik perhatian dari nilai produksi yang serius dan penampilan asyik para pemerannya. Bahkan, mungkin bagi beberapa orang film ini bisa mewakili rasanya memiliki atasan ajaib seperti Bossman.
Sumber : http://www.muvila.com/film/review/movie-review-my-stupid-boss-bersenang-senang-dengan-absurditas-1605256.html
Diakses pada :
Pukul 11.09
Kamis,18 Januari 2018 
REVIEW FILM

Star Wars A New Hope
Image result for Star Wars IV

Dalam rangka menyambut Star Wars Episode VIII, kali ini saya akan membahas seri star wars dari awal rilisnya yaitu Star Wars Episode IV: A New Hope yang dirilis pada 1977 silam. Star Wars adalah franchise film opera luar angkasa karya George Lucas yang sudah menjadi masterpiece, icom budaya populer Amerika Serikat dan tentunya mempunyai banyak fans.

Star Wars pertama yang dirilis tahun 1977 ini sebenarnya pada awalnya hanya dibuat untuk satu film saja dan tidak direncanakan untuk dibuat sekuelnya. Jadi judul awalnya hanyalah “Star Wars” tanpa embel-embel nama episode atau pun sub judul seperti yang kita kenal sekarang.

Star Wars dirilis pada 25 Mei 1977 dan langsung melambungkan nama Mark Hamill, Harrison Ford, dan Carrie Fisher sebagai trio pemeran protagonis dalam film ini. Star Wars: A New Hope disutradarai langsung oleh George Lucas dan semenjak dirilisnya prequel trilogy, film ini berjudul lengkap Star Wars Episode IV: A New Hope, sebagai awal dari original trilogy.

Image result for Star wars 4

Sinopsis :
Diceritakan galaxy sedang dalam masa peperangan akibat pemberontakan terhadap empire yang dipimpin oleh Darth Sidious dan muridnya yang sangat terkenal di kalangan fans Star Wars, Darth Vader. Kapal pemberontak yang ditumpangi oleh Leia Organa (Carrie Fisher) diserang oleh Darth Vader dan pasukannya, di saat terdesak Leia memasukan data penting ke sebuah robot droid R2-D2, saat Leia tertangkap R2-D2 dan robot C-3PO berhasil melarikan diri dan terjatuh di planet gersang, Tatooine. Kedua robot itu ditemukan oleh kaum Jawa dan kemudian menjualnya di tempat penjualan robot rongsokan. Tak disangka R2-D2 dan C-3PO dibeli oleh Paman Ben saat ditemani oleh Luke Skywalker (Mark Hamill). Luke tinggal bersama bibi dan pamannya tersebut sampai ia mendapati sebuah rahasia besar yang disimpan dalam data R2-D2, bahwa ia harus menemui Obi Wan Kenobi (Alec Guinnes) karena dunia terancam bahaya akibat death star yang tengah dibuat oleh Empire, death star adalah benda raksasa yang dapat menghancurkan planet dengan seketika. Luke Skywalker bertemu dengan Obi Wan dan Obi Wan menjelaskan bahwa Luke harus menghentikan semuanya. Setelah paman dan bibinya tewas karena suatu insiden ia tak punya pilihan lain selain mengikuti Obi Wan.

Obi Wan dan Luke harus menyelamatkan putri Leia dan menghancurkan Death Star, di perjalanan mereka bertemu dengan pilot bernama Han Solo (Harrison Ford) dan asistennya yang merupakan wookie, Chewebacca. Singkat cerita Han Solo mau membantu mereka dengan kapal Millenium Falcon dan dimulailah petualangan dan pertempuran epic dan seru di luar angkasa.

Star Wars Episode IV telah mengalami beberapa remaster untuk perbaikan kualitas gambar dan suara. Film ini merupakan salah satu film yang paling berpengaruh dalam sejarah pefilman Amerika Serikat dan sering dijadikan referensi oleh film-film lain. Musik scoring gubahan John Williams membuat film ini semakin megah dan memorable. Adegan-adegan iconic pun tersaji seperti pertarungan antara Obi Wan dam Darth Vader dan lain-lain.

Star Wars IV mempunyai rating 8.7/10 di IMDb dari satu juta lebih voters. Jadi jika kamu mengaku movie lovers tapi belum nonton film klasik ini, rasanya keterlaluan. Soal kualitas saya tidak akan bicara banyak karena sudah pasti sangat bagus. Membuat adegan pertempuran di luar angkasa ada tahun 1977 jelas bukanlah perkara yang mudah.

Karena kesuksesannya, fans saat itu meminta kelanjutan filmnya dan proses produksi pun dimulai untuk merilis Star Wars: Empire Strike Back (1980).

Sumber :
http://hilmansky.com/review-movie/star-wars-episode-iv/

Diakses Pada :

-Pukul 23:13

-Rabu, 17 Januari 2018
REVIEW FILM
INSIDIOUS: THE LAST KEY

Image result for Insidious 4


Director        : Adam Robitel
Actors           : Lin Shaye, Leigh Whannell, Angus Sampson, Javier Botet, Josh Stewart,                 Bruce Davison, Caitlin Gerard, Kirk Acevedo
Durations      : 103 minutes
Rating            : D (Dewasa)
Genre             : Horror, Thriller

Synopsis
            Elise Reinier (Lin Shaye) mendapat telepon dari seseorang yang mengaku mendapatkan gangguan mahluk halus di rumahnya. Ternyata rumah tersebut adalah rumah di mana Elise tumbuh sejak kecil bersama adik dan ayahnya yang kasar dan suka menyiksa. Kali ini Elise mau tidak mau harus menghadapi lagi kekuatan jahat yang sempat membunuh ibunya dan membuat ayahnya gemar menyiksa.

Image result for Insidious 4

REVIEW
FILM keempat seri Insidious ini mundur jauh ke masa kecil sang cenayang Elise. Ada trauma masa lalu yang dibungkus cerita rapi penuh kejutan.

Untuk menyegarkan ingatan, seri Insidious sudah berlangsung selama kurang lebih tujuh tahun. Film pertama, yaitu Insidious (2010) bercerita tentang pasutri yang anak lelakinya kesurupan. Mereka lalu menyewa jasa seorang cenayang bernama Elise (Lin Shaye) yang harus masuk ke dunia "Further" alias alam setelah kematian, antara surga dan neraka, demi menyelamatkan sang bocah. Di akhir film, sang bocah selamat, tapi Elise mati.

Meski begitu, di film kedua Insidious: Chapter 2 (2013), roh Elise muncul, melanjutkan cerita dari film pertama yang belum sepenuhnya selesai. Lalu film berikutnya, Insidious: Chapter 3 (2015) menjadi sebuah film prekuel tentang aksi Elise menaklukkan roh jahat. Dia dibantu duo konyol Tucker (Angus Sampson) dan Specs (Leigh Whannel) yang bekerja dengan bantuan teknologi demi menangkap sinyal kehadiran para roh. Nah, dalam seri keempat ini, cerita akan mengorek-ngorek masa lalu Elise. Tucker dan Specs juga muncul lagi untuk membantunya.

Film dibuka dengan kisah masa kecil Elise di New Mexico. Saat itu Elise muda (diperankan Ava Kolker dan Hana Hayes) sudah punya indera keenam. Namun, ayahnya tak percaya dengan kelebihan anaknya itu, menganggapnya berhalusinasi, hingga selalu memukul dan menghukumnya jika Elise mengaku melihat hantu.

Hingga suatu ketika, saat dihukum, Elise tanpa sengaja membuka "pintu merah", sebuah pintu yang membuat kekuatan jahat masuk ke dunia manusia, lalu meninggalkan trauma bagi Elise hingga usia senjanya. Trauma ini jadi benang merah cerita film keempat, saat Elise ditelepon seseorang yang mengaku diganggu roh jahat, di rumah masa kecil Elise. Dari sinilah petualangan horor Elise dimulai, yang nantinya membuat dia kembali lagi ke dunia "Further".

Sekarang, mari bandingkan film keempat ini dengan film-film sebelumnya. Meski seluruh film ditulis oleh orang yang sama, yaitu Leigh Whannel (juga berperan sebagai Specs), namun dilihat dari kerapian membangun misteri, film ini lebih baik dari seri kedua dan ketiga. Bisa dibilang, The Last Key menyamai keasyikan cerita di film pertama.

Sejak awal, penonton sudah ditarik ke bangunan cerita yang kokoh. Tiap peristiwa akan mengantarkan ke rasa penasaran yang satu ke penasaran yang lain. Bersamaan dengan itu, rasa ngeri karena sadar ada hantu yang hadir (baik yang tampak mau yang tidak), makin menambah keasyikan menonton film ini. Ini juga jadi tanda bahwa The Last Key tak selalu mengandalkan scare jump scene atau adegan yang bikin kaget untuk menakut-nakuti penonton.

Kerapian cerita makin menghibur saat Whannel tiba-tiba menyodorkan kejutan di pertengahan film. Bolehlah disebut, kejutan ini tak lazim terjadi dalam film horor, meski juga bukan sesuatu yang baru. Yang pasti, kejutan ini menambah rasa penasaran tentang ke mana cerita akan dibawa bergerak.

Sayangnya, keseruan di paruh pertama ini bukannya makin naik jelang akhir film, tapi lama-kelamaan malah menurun hingga film selesai. Ini diawali dengan kisah di paruh terakhir yang sangat standar dan mudah ditebak. Sebenarnya, hal tersebut tak terlalu jadi masalah. Namun, hal ini tidak langsung ditutupi atau diimbangi dengan adegan-adegan mengerikan penampakan hantu agar penonton terhibur karena ditakut-takuti hingga titik ekstrem. Boleh dibilang, tingkat kengeriannya malah masih kalah jika dibandingkan film-film sebelumnya.

The Last Key pun lalu berakhir antiklimaks. Saking antiklimaksnya untuk ukuran film horor, bisa-bisa penonton jadi bertanya-tanya, apakah film benar-benar sudah berakhir. Sebuah pertanyaan yang menyimpan harapan tersembunyi agar film jangan selesai dulu. Karena dengan awalan yang apik dan sangat membetot perhatian, The Last Key harusnya bisa ditutup dengan lebih memuaskan.

(amm)

Sumber Review:

Diakses :
Pukul 20.41

Selasa, 16 Januari 2018

Selamat datang di Blog kami... HAVE FUN... Vlog kami : https://www.youtube.com/watch?v=avkO4cZuk2I&feature=youtu.be